Minta Difasilitasi Pulang, Warga Banten Terjebak di Papua

Minta Difasilitasi Pulang, Warga Banten Terjebak di Papua

SERANG, (KB).- Belasan warga Banten yang berasal dari Kabupaten Serang dan Kota Serang terjebak di tengah kerusuhan yang terjadi di Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua. Belasan orang itu, merupakan pedagang yang mencoba mencari nafkah di ujung timur Indonesia tersebut.

Seorang warga Kota Serang yang saat ini ada di Papua, Nurhasanuddin (28), mengatakan, sekitar 16 orang warga Banten yang sudah terdata menginginkan pulang ke tanah asalnya. Akan tetapi, masalah ongkos menjadi kendala. Sehingga, pihaknya meminta difasilitasi oleh pemerintah provinsi (pemprov) atau pemerintah kabupaten/kota.

“Sebenarnya banyak, tapi yang yang baru saya data itu ada 16 orang. Tadi baru saya kumpulkan di sini, di kontrakan. Saya ada 16 orang, rata-rata penjual remote, penjual bubur, tukang service. Jadi mereka itu pengen pulang, karena sudah tidak bisa cari uang di sini. Pulang juga nggak ada uang,” kata dia yang saat ini ada di Distrik Sentani, Kabupaten Jayapura saat dihubungi wartawan melalui telefon seluler, Senin (1/10/2019).

Dari jumlah 16 orang itu, kata dia, sekitar sembilan di antaranya adalah warga Kota Serang yang berasal dari Cipocok Jaya dan Lopang. Sedangkan sisanya, warga Kabupaten Serang yang berasal dari Ciruas dan Pontang. Ia sendiri berasal dari Kelurahan Dalung, Kecamatan Cipocok Jaya yang saat ini tinggal di Distrik Sentani bersama satu anak dan istrinya yang saat ini sedang hamil.

“Jadi sekarang ini fokusnya lagi diamankan dulu di Sentani. Padahal, di Sentani pun sama saja tidak aman juga. Tapi setidaknya ada Yonif 751 raider, ada tentara disini,” ucap dia.

Ia mengatakan, warga pendatang lain seperti dari Jawa Barat dan Sumatera sebagian sudah bisa pulang, dengan difasilitasi pemerintah daerah (pemda) masing-masing. Sehingga, dirinya bersama warga Banten memohon agar pemda dapat memfasilitasi kepulangan mereka. Sebab, kondisi di Papua sudah tidak kondusif lagi.

Meski demikian, ia menyatakan belum mendapat informasi adanya korban kerusuhan dari Banten. “Saya sudah 7 tahun di Papua. Keinginan teman-teman hanya minta difasilitasi untuk kepulangan ke Serang,” ujarnya.

Bantu transportasi

Wali Kota Serang Syafrudin mengatakan, dirinya sudah menghubungi langsung Nurhasanuddin yang saat ini ada di Papua. Dari informasi yang diterima, ucap dia, saat ini ada sembilan orang warga Kota Serang yang ada di Papua, termasuk di antaranya perempuan dan anak-anak.

“Saya sudah telepon ke warga yang ada di Papua, namanya Nurhasanuddin dan berbicara banyak. Namun yang jelas, mau pulang ke Kota Serang banyak kendala, terutama ongkos dari Papua ke Kota Serang. Karena mereka tidak usaha disana, yang kedua masalah keamanan,” katanya.

Selanjutnya, ujar dia, pemkot meminta Nurhasanuddin mengirim data valid warga Kota Serang yang ada di Papua. Pemkot juga sudah berkoordinsi dengan Komandan Distrik Militer (Dandim) 0602 Serang terkait keamanannya.

“Kalau masalah transport mungkin saya akan memberikan bantuan. Sekarang Nurhasanuddin sedang mendata yang ada di Papua dan Insyaallah datanya akan dikirim ke kami,” tuturnya.

Saat ini, kata Syafrudin, kondisi warga Kota Serang di Papua masih aman. Tetapi, mereka khawatir atas kerusuhan yang terjadi. Selain itu, mereka juga sudah tidak bisa menjalankan usahanya di Papua. “Komunikasi dengan pemerintahan di Papua nanti saya usahakan, beberapa kali saya telepon belum nyambung,” ujar dia.

Sementara itu, data yang diterima dari Nurhasanuddin, warga Banten yang ada di Papua saat ini diantaranya Azhari (46) asal Ciruas, Kabupaten Serang. Budiman (25) asal Pontang, Kabupaten Serang. Abdurrahman (54) asal Babakan, Kabupaten Serang. Bainah (25) asal Ciruas, Kabupaten Serang. Faturohman (25) asal Kaserangan, Kabupaten Serang. Farel (4) asal Ciruas, Kabupaten Serang.

Kemudian, Aminudin (23) asal Secang, Kota Serang, Sunaesah (22) asal Jambu, M Afan (6 bulan) asal Serang, Hasan (30) asal Lopang, Kota Serang, Vindi Wenawati (29) asal Lopang, Kota Serang, Adam (3) asal Lopang, Kota Serang, Resi A (25) asal Cipocok Jaya, Kota Serang, Rey (4) asal Cipocok Jaya, Kota Serang dan Nurhasanuddin (28) asal Cipocok Jaya, Kota Serang.

Pemprov Banten utus tim

Sementara, Gubernur Banten Wahidin Halim telah membentuk tim penjemputan yang dipimpin langsung oleh Plt Kepala BPBD Banten E Kusmayadi. Biaya perjemputannya ditanggung Pemprov Banten.

“Agar mereka untuk sementara bisa bawa pulang dan kembalikan ke sini sambil menunggu situasi kondusif. Tentunya sebagai gubernur saya punya kewajiban untuk membela dan membantu mereka, dan saya prihatin dengan peristiwa yang terjadi di Papua,” ujarnya.

Ia berharap, peristiwa yang terjadi di Papua menjadi catatan sejarah dan tak disikapi warga Banten dengan emosi. “Namun kita sikapi bahwa ini adalah hal yang harus kita lakukan yaitu tindakan mengembalikan mereka, membawa mereka pulang,” ujarnya.

Plt Kepala BPBD Banten E Kusmayadi menuturkan, tim yang diutus ke Papua akan terlebih dahulu mengecek secara langsung keberadaan warga Banten. “Tentu akan dilakukan langkah apakah kondisi di sana cukup aman, harus dipulangkan,” katanya.

Pria yang juga Inspektur Pemprov Banten ini menuturkan, langkah yang dilakukan merupakan bentuk pertolongan terhadap warga Banten. “Seperti yang dilakukan oleh pihak Sumatera Barat kalau enggak salah. Wakil gubernurnya ke sana (Papua) mengecek. Jadi di sana akan dilakukan koordinasi, kemudian akan dikonsultasikan apakah cukup aman,” ujarnya.

Informasi yang diterimanya sampai kemarin, warga Banten yang ada di Papua berjumlah belasan orang. “Iya akan akomodir sesuai arahan pak gubernur, perkiraaan 14 orang. Harus dipersiapkan dulu. Kemudian melibatkan yang lain, minggu ini atau secepatnya (berangkat),” katanya. (Masykur/SJ/SN)*

 

Sumber : https://www.kabar-banten.com/minta-difasilitasi-pulang-warga-banten-terjebak-di-papua/