Pemprov dan Polda Banten Tangkal Radikalisme

Pemprov dan Polda Banten Tangkal Radikalisme

SERANG – Paham radikalisme merupakan ancaman terhadap kedaulatan NKRI lantaran tindakan radikal menjadi pemicu rapuhnya nilai persatuan dan nilai kebangsaan. Dalam lima tahun terakhir, paham radikalisme masif menyasar generasi muda Indonesia. Oleh sebab itu, kaum muda di semua daerah termasuk di Banten sangat rentan terpapar radikalisme dan aksi terorisme.

Untuk menangkal paham radikalisme di kalangan generasi muda, Pemprov Banten bekerja sama dengan Polda Banten memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-91 dengan menggandeng pemuda dan mahasiswa untuk bersama-sama melawan radikalisme.

Kapolda Banten Irjen Pol Tomsi Tohir mengungkapkan, pihaknya sangat mendukung deklarasi Pemuda Banten melawan radikalisme dan terorisme dalam merayakan Hari Sumpah Pemuda tahun 2019 tingkat Provinsi Banten. Dikatakan Tomsi, berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), mayoritas pelaku teror yang terpapar radikalisme berusia muda, yakni di bawah 30 tahun atau usia pelajar dan mahasiswa. “Untuk menangkal radikalisme dan terorisme di kalangan anak muda, kita juga harus libatkan para anak muda,” kata Tomsi kepada wartawan usai menghadiri deklarasi pemuda Banten melawan radikalisme dan terorisme di Pendopo Gubernur, KP3B, Curug, Kota Serang, Senin (28/10).

Tomsi memaparkan, penyebaran paham radikalisme kini semakin canggih mengikuti perkembangan teknologi informasi. Melalui dunia maya, kelompok-kelompok radikal melakukan perekrutan terhadap generasi milenial.

“Kenapa anak muda rentan terpapar radikalisme, karena mayoritas pengguna internet adalah anak-anak muda. Sekarang ini, kelompok teroris merekrut pelaku teror melalui media sosial,” ungkapnya.

Selain menggunakan medsos, paham radikalisme juga dikembangkan melalui kampus dan sekolah. Modusnya bisa berupa kajian atau peminjaman buku, memfasilitasi kosan dengan internet gratis dengan persyaratan tertentu. “Metode ini sudah marak terjadi. Karena itu, kami berharap para pemuda Banten mampu memfilter paham radikalisme,” urainya.

Tomsi melanjutkan, dirinya sengaja memberikan pencerahan kepada para mahasiswa di Banten agar memahami akar permasalahannya. Bagaimana radikalisme ini masuk ke kalangan generasi milenial. Sehingga, dengan begitu bisa mewaspadai berkembangnya paham radikalisme.

“Tadi KNPI dan pengurus BEM di Banten sudah melakukan deklarasi, selanjutnya mereka akan melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menangkal radikalisme,” jelasnya.

Terkait makna Hari Sumpah Pemuda, Tomsi memaparkan bahwa Sumpah Pemuda 91 tahun lalu merupakan tonggak pemuda Indonesia yang tidak mempersoalkan asal daerah dan suku. Ia berharap, para pemuda di Banten menjadi garda terdepan dalam menjaga persatuan dan kesatuan. “Radikalisme dan terorisme adalah musuh bersama, yang harus dilawan bersama-sama,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua KNPI Banten M Ali Hanafiah mengungkapkan, pemuda dan mahasiswa Banten telah komitmen untuk memerangi paham radikalisme dan terorisme. “Insiden penusukan Pak Wiranto telah mencoreng nama baik Provinsi Banten. Untuk itu, kami tergerak untuk berbuat sesuatu untuk Banten. Kami mencoba menangkal paham tersebut masuk ke kalangan pelajar dan mahasiswa,” katanya.

Ali menegaskan, deklarasi pemuda Banten melawan radikalisme dan terorisme bukan hanya seremonial. Pihaknya akan segera turun ke lapangan membantu pemerintah daerah menangkal penyebaran paham radikal. “Kami akan bekerja sama dengan pengurus OSIS di SMA SMK, jangan sampai ada pelajar terpapar isu yang disebarkan kelompok radikal,” tegasnya.

Sebelumnya, Gubernur Banten Wahidin Halim dalam sambutannya mengatakan, sejak aksi teror penusukan terhadap Wiranto di Kabupaten Pandeglang, dirinya selalu mendapat pertanyaan soal perkembangan radikalisme dan terorisme di Banten. “Saat saya ke Jakarta ditanya bagaimana kondisi Banten? Saya jelaskan bahwa pelaku penusukan Pak Wiranto bukan orang Banten,” ujarnya.

Wahidin melanjutkan, peringatan Hari Sumpah Pemuda menjadi momentum untuk memperkuat persatuan dan kesatuan, di tengah kepentingan ekonomi politik internasional. Di tengah perkembangan teknologi informasi yang sangat mudah untuk menyebarkan paham radikalisme oleh kelompok-kelompok yang tidak bertanggung jawab. “Saya mengajak semua masyarakat Banten, kita harus lawan siapa pun yang mengancam kedaulatan NKRI. Pemprov dan Polda Banten akan berjuang keras menangkal penyebarluasan paham radikal,” tegasnya.

Di hadapan ratusan mahasiswa, Wahidin menegaskan, paham radikalisme merupakan ideologi pada pandangan-pandangan politik anti kemapanan untuk mengganti dengan cara-cara kekerasan. Memaksakan diri untuk mengganti sistem pemerintahan. Tidak hanya di Indonesia, tapi terjadi hampir di semua negara.

“Di Indonesia ada pihak-pihak yang ingin mengganti Pancasila dengan negara Islam. Tapi, di Pakistan yang telah mendeklarasikan negara Islam, masih kena teror. Kita tidak bisa membiarkan teror, karena teror menghantam siapa saja, mulai rakyat kecil, pejabat. Siapa pun,” tegas Wahidin.