Warga Banten Positif Corona Jadi 10 Orang, Pasien Meninggal Bertambah

Warga Banten Positif Corona Jadi 10 Orang, Pasien Meninggal Bertambah

SERANG, (KB).- Pasien virus corona asal Banten yang meninggal dunia bertambah dari seorang menjadi dua orang. Begitu pun warga yang dinyatakan positif Coronavirus disease 2019 (Covid-19) tersebut, bertambah dari 5 orang menjadi 10 orang.

Berdasarkan data yang diunggah dalam situs resmi wabah corona dari Pemerintah Provinsi Banten, https://infocorona.bantenprov.go.id/ sampai Rabu (18/3/2020) pukul 21.25 WIB, kasus terkonfirmasi Covid-19 di Banten hingga tanggal 17 Maret 2020 tercatat kasus konfirmasi Covid-19 sebanyak 10 orang yang masih dirawat yang berasal dari Kabupaten Tangerang 5 orang, Kota Tangerang 1 orang, dan Kota Tangserang Selatan 2 orang (masih dirawat). Sementara, 2 pasien meninggal dunia.

Untuk Pasien Dalam Pengawasan (PDP), yang masih dirawat mencapai 25 orang dan 5 orang dinyatakan sembuh. Untuk PDP, berasal dari Kabupaten Pandeglang 2 orang, Kabupaten Tangerang 6 orang, Kota Tangerang 11 orang, dan Tangerang Selatan 6 orang. Sementara, 5 orang yang sembuh berasal dari Kabupaten Serang 2 orang, Kabupaten Tangerang 2 orang, dan Kota Tangerang Selatan 1 orang.

Sedangkan Orang Dalam Pemantauan 144 orang, yang terdiri atas 93 orang masih dipantau dan 51 orang sembuh. Mereka yang dipantau berasal dari Kabupaten Pandeglang 1 orang, Kabupaten Tangerang 20 orang, Kota Tangerang 34 orang, Kota Tangsel 35, Kota Serang 1 orang, Kota Cilegon 2 orang.

Sementara, yang sembuh berasal dari Kabupaten Pandeglang 1 orang, Kabupaten Serang 1 orang, Kabupaten Tangerang 19 orang, Kota Tangerang 9 orang, Kota Tangsel 12, Kota Cilegon 9 orang.

Di luar data tersebut, dari Tangerang Selatan dilaporkan seorang warga dinyatakan positif virus corona. Sementara, 76 orang lainnya terpapar virus corona virus desease 2019 (Covid-19), 11 Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan 64 Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Hal itu disampaikan Juru Bicara Gugus Tugas Covid-19 Kota Tangerang Selatan, Tulus Muladiyono kepada wartawan di Press Room Balai Kota Tangerang Selatan, Ciputat, Rabu (18/3/2020). “Update hari ini Rabu (18/3/2020), ada 76 (terpapar) di Tangsel, 11 PDP, 1 positif, dan 64 Orang Dalam Pemantauan (ODP),” ujarnya.

Tulus mengatakan, data yang disampaikan ini berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan RI ke Provinsi Banten. Sementara, pada situs resmi Info Corona Banten ada dua warga positif. “Jadi jika ada perbedaan dari data website Banten, kami akan konfirmasi dulu ini ada dimananya, karena kami perlu tracking dulu,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan, seorang pasien yang telah dinyatakan positif itu masih mendapat penanganan di RSPI Sulianti Saroso. Namun, Tulus enggan menyebutkan identitas pasien positif corona tersebut lebih lanjut. Ia berharap, agar penyampaian data tersebut dapat bermanfaat dalam mencegah kepanikan masyarakat.

Inventarisasi kebutuhan

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang Selatan sedang mengintevarisasi sejumlah kebutuhan selama status siaga terhadap penyebaran virus corona atau Covid-19. Hal itu dilakukan karena ditetapkannya status Kejadian Luar Biasa (KLB) corona oleh Pemerintahan Provinsi Banten.

“Saat ini kami sedang menginventarisasi, perlunya pergeseran anggaran di Dinas Kesehatan, BPBD dan di Kominfo,” ujar Wakil Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie.

Ia mengatakan, kebutuhan itu nantinya akan dipenuhi menggunakan alokasi dana tidak terduga dalam APBD Kota Tangsel tahun 2020 yang nilainya sebesar Rp 3 miliar.

“Di kelompok anggaran tidak langsung. Saya lupa kalau enggak salah Rp 3 miliar, itu boleh digunakan. Sekarang sedang diinventarisasi, untuk apa saja nanti dibelanjakannya,” tutur Benyamin.

Dia mengatakan, dirinya menerangkan, penggunaan dana tidak terduga yang sudah dialokasikan itu nantinya akan digunakan untuk hal-hal di luar yang telah diperhitungkan.

“Didiskusikan penggunaannya untuk apa, yang belanja tidak tetap ini kalau mau digunakan. Kenapa ini bisa digunakan, karena ini kejadian luar biasa yang memang memungkinkan pemerintah daerah menggunakan belanja tak terduga,” tutur Benyamin.

Selain itu, kata Tulus, Pemkot Tangsel berupaya menggandeng rumah sakit swasta agar mau menangani wabah virus corona atau Covid-19. Penggalangan kerja sama ditempuh karena perkembangan pasien warga sekitar yang diduga telah terpapar jumlahnya terus bertambah.

“Masih menunggu dari pihak swasta, kalau siap kita akan MoU,” ucapnya.

Dia mengatakan, pihaknya telah melobi enam rumah sakit swasta agar bersedia menjadi rujukan penanganan pandemi virus corona. Keenam rumah sakit itu adalah Eka Hospital, Omni Hospital, Premier Bintaro, Pondok Indah Bintaro, Medika BSD dan Medika Bakti Hudaya.

Tulus mengatakan, hingga kini baru ada dua rumah di Provinsi Banten yang ditunjuk menjadi tempat rujukan pasien corona. Keduanya di RSUD Tangerang dan RSDP Serang.

“Kalau ada kerja sama itu mau tak mau ada ruang isolasi khusus untuk corona. Tak boleh dipakai untuk penyakit yang lain,” tutur Tulus.

Jika ternyata rumah sakit swasta di Kota Tangsel tidak ada yang bersedia dijadikan tempat rujukan penanganan virus corona, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan satuan gugus tugas di Provinsi Banten.

RSUD Banten disarankan dialihfungsikan

Semenatra itu, Wakil Bupati Serang Pandji Tirtayasa menyarankan agar Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Banten dialihfungsikan menjadi rumah sakit yang khusus menangani masalah infeksi pernapasan, termasuk corona. Hal itu dikarenakan infeksi merupakan masalah yang serius dan harus ditangani secara khusus.

“Kalau boleh disarankan kepada Pemprov, untuk bangun RS yang khusus tangani infeksi. Kalau RSDP kan umum, semua penyakit masuk kesitu. Saya harapkan, di Pemprov punya RS yang mengkhususkan diri menangani infeksi saluran pernapasan,” ujarnya.

Sebab, kata Pandji, jika bicara infeksi bukan hanya corona. Akan tetapi, flu, pilek bahkan TBC, bagian yang harus ditangani seperti RSPI Sulianti Suroso. “Dia tidak tangani masalah kanker, tapi khusus karena dengan perlengkapan khusus,” katanya.

Pandji berharap untuk mewujudkan hal itu, RSUD Banten bisa dikonsentrasikan untuk masalah infeksi. Sedangkan untuk masalah penyakit umum masih ada rumah sakit lain, yang bisa menangani seperti RSDP, Hermina atau RS KS.

“Ini baru mimpi saya, mudah-mudahan kalau ketemu (gubernur akan disampaikan). Saya hanya sarankan, tapi semua berpulang pada kebijakan gubernur, karena infeksi ini masalah serius, flu, hepatitis itu virus,” tuturnya.

Kemudian berkenaan dengan soal sebaran virus corona yang semakin mengkhawatirkan, Pandji juga meminta kepada masyarakat agar tidak memanfaatkan waktu libur yang diberikan pemerintah untuk ajang liburan seperti hari raya. Namun, mereka diminta berdiam di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Ia mengatakan, dua pekan merupakan masa inkubasi sehingga tidak ada penyebaran virus keluar.

“Kalau sekarang libur dia piknik ke pantai dan mal, kita tidak tahu di tempat itu ada yang positif. Orangtua murid tolong yang diliburkan jangan dia sia-siakan, jangan ke luar rumah, hindari keramaian. Karena kita tidak tahu di lingkungan ada yang kena,” tuturnya. (SN/DA/DN)*

 

Sumber : https://www.kabar-banten.com/warga-banten-positif-corona-jadi-10-orang-pasien-meninggal-bertambah/