Investasi Bodong Rawan Terjadi di Banten


SERANG – Investasi bodong rawan terjadi di Provinsi Banten. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena Banten salah satu Provinsi yang sangat dekat dengan Ibukota Indonesia yaitu Jakarta.

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Satuan Pengawas (Satgas) Waspada Investasi pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pusat Tongan Lumban Lobing kepada Tangerang Ekspres seusai acara rapat koordinasi tim kerja satgas waspada investasi daerah Provinsi banten, di Hotel Le Dian, Kota Serang, Selasa (10/10).

“Karena Banten ini dekat dengan ibukota yang disebut sebagai pusat ekonomi, tentu Banten ini menjadi tempat sasaran utama bagi pelaku. Seperti Talk Fusion, ini adalah perusahaan yang sudah diberhentikan sejak Februari lalu, tapi mereka masih melakukan kegiatan. Seperti penjualan aplikasi video chatting, bukan produknya yang diminati pleh masyarakat melainkan bonus-bonusnya, karena jika mereka menjaring peserta maka secara otomatis pendapatannya semakin banyak,” ujarnya.

Lebih lanjut dia mengaku, secara keseluruhan yang dominan tertipu atau ikut serta dalam investasi bodong adalah kalangan orang yang berlatar belakang pendidikan, hal tersebut dilakukan akibat keserakahan yang menghalalkan segala cara demi meraih uang dengan cara yang lebih instan, bahkan hal tersebut sering terjadi di beberapa kasus.
Kemudian juga masih banyaknya masyarakat yang tergiur dengan investasi ilegal dikarenakan faktor ekonomi dan pendidikan yang masih rendah, sehingga mereka tidak mengetahui produk-produk investasi yang benar.

“Contohnya Pandawa mandiri depok, itu justru itu lebih banyak orang yang berpendidikan. Sedangkan di daerah terpencil itu juga ada beberapa orang yang tidak memiliki pendidikan yang baik, seperti kasus di Papua, ini memang masyarakat disana sudah di iming-imingi dengan fasilitas atau upah yang tinggi,,” ujarnya.

Dikatakan dia, ada beberapa cara untuk mengetahui legalitas investasi yang tersebar di masyarakat, diantaranya dengan cara mengecek 2 L. Yaitu pertama legal kemudian logis.

“Legal artinya masyarakat cek dahulu izinnya, izin badan hukumnya, izin kegiatan usahanya izin produknya, kalau tidak ada jangan, kalau ragu bisa hubungi OJK. Kemudian L satu lagi yaitu logis, kalau ada penawaran dengan bunga misalkan 5 persen perbulan itu menyesatkan apa lagi dikatakan tanpa resiko, kita bisa bandingkan dengan suku bunga seperti deposito hanya 5 persen pertahun, ini pasti tidak benar sangat tidak masuk akan jika ada bunga 5 persen bahkan lebih,” paparnya.

Dia Juga menghimbau kepada masyarakat yang ingin berinvestasi harus datang ke tempat yang sudah jelas atau sudah legal. Karena banyak penawaran dari investasi legal yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Kalau ingin berinvestasi di barang real contohnya properti juga lebih aman sebetulnya, kalau dipasar uang, deposito kemudian surat berharga atau di pasar modal, saham juga bisa berinvestasi. Akan tetapi yang pasti harus memiliki izin dari otoritas kalau jasa kuangan berarti ke OJK, tujuannya kalau jangka pendek mending di tabungan, kalau jangka panjang harus saham,” paparnya.

Sementara Direktur Menejemen Strategis, Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK Banten, dumariana membenarkan Banten menjadi Provinsi yang rawan investasi bodong, berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan pihak terkait, ada tiga investasi yang patut diwaspadai dan dilakukan pengecekan. Diantaranya Talk Fusion, Koperasi dan Swissindo .

“Kita baru melakukan rapat koordinasi dan hasilnya ada yang harus kita selidiki, saya akan menangani masalah ini, makanya ini baru mulai, karena sebelumnya belum tahu mekanisme kerjanya seperti apa, jadi kita juga ikut meringankan tugas satgas pusat,” ujarnya. (Bayu Mulyana/coffeandchococake@gmail.com)


Tentang Kami


Statistik Kunjungan